image

Foto: Istimewa

09 Februari 2018 | 13:28 WIB | Medis

Kematian Akibat TB Ditarget Turun 40 Persen

SLEMAN, suaramerdeka.com - Temuan kasus penyakit tuberculosis (TB) masih tinggi. Untuk menekan angka kasus TB, pemerintah sejak tahun 2016 telah meluncurkan strategi TOSS-TB.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Bidang Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman Dulzaini menerangkan, strategi ini meliputi peta jalan eliminasi TB, penemuan intensif, massif, kemitraan, dan mobilisasi sosial. "Targetnya ditentukan secara bertahap dengan visi Indonesia bebas TB pada tahun 2035," katanya.

Target jangka pendek yakni tahun 2020, insiden TB diharapkan turun sebesar 30 persen dibandingkan tahun 2014, sedangkan kematian akibat TB ditarget turun 40 persen. Berlanjut di tahun 2025, target dampak yaitu 50 persen penurunan insiden TB, dan 70 persen penurunan kematian TB .

Target itu meningkat lima tahun berikutnya yakni 80 persen untuk penurunan kasus TB, dan 90 persen penurunan kematian TB. Target terakhir pada tahun 2035, penurunan insiden TB sebesar 90 persen dan kematian akibat TB 95 persen.

Lebih lanjut Dulzaini menyampaikan, pencegahan penyakit TB dapat dilakukan dengan menjaga perilaku hidup bersih dan sehat. Salah satu yang paling mudah dengan rutin membuka jendela dan pintu setiap pagi agar udara dan sinar matahari masuk.

"TB bukan penyakit turunan namun disebabkan oleh kuman yang ditularkan melalui percikan renik di udara. Karena itu untuk mencegah penularan, penderita TB sebaiknya menutup mulut dan hidung sewaktu batuk atau bersin, serta tidak membuang dahak di sembarang tempat," jelasnya.

Dari berbagai tingkatan usia, menurut dia, yang paling rawan terkena TB adalah anak, dan lansia. Sementara dari lingkungan, warga yang rawan terserang penyakit itu adalah yang tinggal di kawasan kumuh, lapas/rutan, asrama, dan pesantren.

Wanita juga cukup rentang terserang TB. Dinkes mencatat penyakit TB berada di peringkat 7 dalam hal penyebab kematian ibu. "Pengobatan TB memakan waktu cukup lama dan tidak boleh terputus. Oleh sebab itu, support dari keluarga dan lingkungan sekitar sangat dibutuhkan," ujar Dulzaini.

Pengobatan pada tahap awal sekurang-kurangnya 6 bulan atau 4 bulan setelah konversi biakan. Keseluruhan, proses pengobatan memakan waktu berkisar 19-24 bulan yang terdiri dari pengobatan tahap awal dan lanjutan.

(Amelia Hapsari /SMNetwork /CN33 )